5 Virus Yang Lebih Mematikan Dari Ebola - TwitterTorss.com

TwitterTorss.com

TwitterTorss.com

Breaking

Friday, April 10, 2020

5 Virus Yang Lebih Mematikan Dari Ebola

Wabah virus ebola di Afrika Barat yang kini telah menewaskan lebih dari 1.000 orang mengkhawatirkan banyak orang di dunia. Virus ebola memang mempunyai keganasan yang tinggi. Menurut Insititusi Kesehatan Nasional, tingkat mortalitas pada wabah yang kini terjadi mencapai 60 persen.

Meski demikian, para andal tidak hanya mengkhawatirkan ancaman ebola alasannya masih banyak virus lain yang jauh lebih berbahaya. Menurut Cecilia Rokusek, andal kesehatan masyarakat dari Florida, ada beberapa virus yang menjadi sumber penyakit di negara berkembang.

Angka maut akhir virus-virus ini cenderung lebih rendah dibanding Ebola, tetapi penyakit ini merupakan ancaman di negara berkembang dan membunuh lebih banyak orang setiap tahunnya.

Berikut kelima virus berbahaya tersebut:

1. Rabies
Virus ini menyebar lewat air liur dan gigitan binatang yang terinfeksi rabies, menyerupai anjing, monyet, atau kelelawar. Mereka yang digigit binatang harus pribadi mendapatkan vaksin rabies untuk mencegah infeksi. Namun, tidak semua orang sadar bahwa mereka telah tergigit, khususnya oleh kelelawar.

Rabies juga mempunyai tingkat kefatalan tertinggi dari virus lain. Di AS, hanya tiga orang yang sanggup bertahan hidup tanpa mendapatkan vaksin sehabis diserang virus tersebut. Menurut WHO, tiap tahunnya hampir 55.000 orang tewas alasannya rabies di Afrika dan Asia.

2. Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Autoimmune Deficiency Syndrome (AIDS)
Walau jumlah maut alasannya HIV cenderung menurun beberapa tahun belakangan, pada tahun 2012, sebanyak 1,6 juta orang di seluruh dunia meninggal alasannya HIV dan AIDS.

Virus ini menyerang sel imun badan seseorang dan melemahkan sistem pertahanannya. Lama-kelamaan, penderita akan kesulitan untuk melawan penyakit-penyakit lain. Jika sudah hingga pada tahap AIDS, penyakit flu pun sanggup menciptakan penderita meninggal dunia.

Sejak penyakit ini ditemukan pada 1981, AIDS telah membunuh 650.000 orang di Amerika, dan diperkirakan 36 juta orang di seluruh dunia. Meski hingga ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV/AIDS, dukungan obat antiretroviral (ARV) sanggup menciptakan penderita hidup lebih lama.

3. Influenza
Ya, flu memang tidak seseram dua virus sebelumnya. Akan tetapi, influenza membunuh lebih banyak orang setiap tahunnya dibanding ebola. Jumlah persis korban yang meninggal memang masih dalam perdebatan, tetapi CDC mengira angka maut alasannya flu musiman di AS yaitu 3.000 hingga 49.000 jiwa per tahunnya.

Musim flu juga bervariasi mulai dari tingkat keparahan dan lamanya, tergantung jenis virusnya. Menurut CDC, wabah menyerupai influenza A (H3N2) membunuh dua kali lipat dibanding influenza A (H1N1) atau influenza B.

Patut diingat, influenza sangat menular. Diperkirakan 3 juta hingga 5 juta orang sakit parah setiap tahunnya alasannya influenza. WHO mencatat 250.000 hingga 500.000 maut per tahun alasannya flu. Virus ini lebih banyak menjadikan penyakit daripada membunuh. Meski demikian, para profesor dan dokter menyarankan imunisasi flu tahunan sebagai langkah pencegahan.

Vaksin flu memberi imunitas dari influenza A atau B, tetapi virus juga sanggup mengalami mutasi dan menghasilkan tipe baru. Pandemi influenza terbaru yaitu swine flu atau flu babi.

4. Virus dari nyamuk
Virus ini menyebar lewat gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi. WHO dan CDC mencatat, penyakit menyerupai DBD, demam kuning, ataupun West Nile virus (WNV) telah membunuh 50.000 orang di seluruh dunia. Selain virus, benalu penyebab malaria juga membunuh 600.000 orang tiap tahun.

CDC memperingatkan bahwa 40 persen dari populasi dunia atau sekitar 2,5 juta orang terancam ancaman serius tertular penyakit dari nyamuk. Mereka juga mengklaim, penyakit DBD yang marak di Amerika Selatan, Meksiko, Afrika, Asia, termasuk Indonesia, telah membunuh 22.000 orang per tahun.

Penyakit DBD juga berpotensi menyebar antar-negara alasannya perpindahan insan yang semakin mudah. Lain kisah dengan WNV, virus yang menyerang saraf ini disebarkan oleh nyamuk yang terinfeksi virus ini dari burung.

5. Rotavirus
Virus yang menyerang kanal pencernaan ini berakibat fatal pada anak-anak. CDC mengklaim, terdapat hampir 111 juta laporan gastroentritis tiap tahun dari seluruh dunia. Mayoritas dari penderita masih balita dan 82 persen maut terjadi di negara berkembang.

Vaksin untuk rotavirus sudah ditemukan di AS pada 1998, tetapi ditarik kembali dari peredaran alasannya alasan keamanan. Barulah pada 2006, sebuah vaksin ditemukan dan direkomendasikan bagi bawah umur berusia dua bulan ke atas.

Meski kini beberapa jenis vaksin sudah dikembangkan untuk mencegah nanah virus menyerupai DBD atau rotavirus, menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan keluarga wajib diperhatikan.

No comments:

Post a Comment

Pages