Bagi Orang Asia, Kurus Belum Tentu Sehat - TwitterTorss.com

TwitterTorss.com

TwitterTorss.com

Breaking

Tuesday, April 14, 2020

Bagi Orang Asia, Kurus Belum Tentu Sehat

Hipertensi, kolesterol tidak normal, dan indeks massa tubuh (body mass index/BMI) tinggi merupakan kondisi tubuh yang dikategorikan tidak sehat. Untuk menghindari kondisi tersebut, salah satu jalan keluar yang banyak dipercaya ialah tetap kurus. Ada anggapan bahwa dengan mempunyai tubuh kurus, peningkatan BMI, kolesterol tidak normal, dan hipertensi bisa dicegah.

Padahal, tubuh yang sehat terbukti lebih bisa menghalau BMI tinggi, kolesterol tidak normal, dan hipertensi dibanding tubuh yang kurus. Dengan kata lain, tubuh kurus belum tentu sehat.

Hal ini merujuk pada laporan terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang menemukan, meski kurus, orang cukup umur keturunan Asia di Amerika kebanyakan mempunyai problem kardiovaskuler.

Peneliti tertarik pada hasil ini dan lalu membandingkannya dengan kebangsaan lain yang tinggal di Amerika. Responden berusia 20 tahun dan lebih pun terlibat dalam penelitian ini. Data diambil dari National Health and Nutrition Examination Survey, sebuah agenda yang mempelajari nutrisi dan tren kesehatan pada usia anak dan cukup umur di Amerika.

Hasilnya, hanya 38,6 persen orang cukup umur Asia yang mengalami kelebihan berat tubuh dengan BMI lebih dari 25. Sedangkan BMI lebih dari 25 ada pada masyarakat kulit putih sebesar 66,7 persen, masyarakat kulit gelap sebesar 76,7 persen, dan keturunan Amerika Selatan (Hispanik) sebesar 78,8 persen.

BMI ialah ukuran lemak tubuh yang diketahui dengan menghitung berat dan tinggi tubuh secara bersamaan. BMI dikatakan normal kalau berada pada kisaran 18,5-24,9. Sedangkan orang yang kelebihan berat tubuh mempunyai BMI antara 25-29,9. Obesitas terjadi dikala BMI mencapai 30 dan selebihnya.

Kendati begitu, rendahnya nilai BMI tidak lantas mengindikasikan baiknya kondisi kesehatan. BMI rendah juga tidak berarti bebas dari hipertensi dan kolesterol yang tidak normal. Dalam riset ini, orang Asia dengan BMI 25 yang menderita hipertensi mencapai sekitar 25,6 persen.

Kondisi sedikit berlawanan dengan yang terjadi pada masyarakat kulit putih dan hispanik. Keduanya menyebarkan angka 25,6 persen terkait jumlah warganya yang terkena hipertensi. Namun jumlah tersebut lebih rendah dibanding masyarakat kulit gelap yang terkena hipertensi, yaitu sebesar 42,1 persen.

Terkait jumlah kolesterol tertinggi, semua kategori riset menyebarkan angka yang sama. Sebesar 10,3 persen masyarakat pada tiap kategori mempunyai jumlah kolesterol yang cukup tinggi.

Untuk jumlah kolesterol baik, sebesar 14,3 persen masyarakat Asia mempunyai high density lipoprotein (HDL) dalam darahnya. Jumlah ini sama menyerupai masyarakat kulit putih dan hitam. Sedangkan masyarakt Hispanik mempunyai persentase kepemilikan HDL lebih tinggi, yaitu 21,8 persen.

Menurut peneliti, studi ini dilakukan atas dasar minimnya info kesehatan orang Asia yang tinggal di Amerika. Padahal, semenjak 2000 sampai 2010 terjadi peningkatan jumlah masyarakat Asia di Amerika sampai mencapai 40 persen. Menurut CDC, populasi Asia di Amerika umumnya tiba dari China, India, Korea, Filipina, Vietnam, dam sebagian Jepang.

No comments:

Post a Comment

Pages