Dampak Poligami Pada Kesehatan Istri Yang Dimadu - TwitterTorss.com

TwitterTorss.com

TwitterTorss.com

Breaking

Wednesday, April 1, 2020

Dampak Poligami Pada Kesehatan Istri Yang Dimadu

Peristiwa terakhir adanya pejabat yang diduga melaksanakan poligami ketika menjadi pejabat menciptakan saya tergelitik untuk mencoba melaksanakan review imbas poligami bagi kesehatan.

Saya sendiri belum pernah melaksanakan survei seputar permasalahan ini dan belum mendapat penelitian dari Indonesia yang telah dipublikasi secara internasional. Tetapi dalam praktek sehari-hari sebagai seorang dokter ternyata duduk kasus keluarga sanggup menjadi pelopor seseorang mengalami gangguan kesehatan.

Untuk mengetahui lebih lanjut perihal duduk kasus ini yang sanggup saya kerjakan yakni mencari bukti klinis perihal duduk kasus poligami ini dengan kesehatan. Untuk itu saya melaksanakan penelusuran melalui ‘PUBMED” salah satu situs ternama yang dipakai secara luas untuk mengetahui penelitian yang telah dikerjakan dan dipublikasi pada aneka macam jurnal ternama.

Untuk penelusuran mengenai poligami ini saya memakai keyword “Polygamous married”. Surprised! Ternyata ada beberapa penelitian yang melihat imbas poligami pada aneka macam permasalahan kesehatan khususnya bagi istri pertama. Saya membatasi diri untuk membuka jurnal terakhir saja dan bentuk artikelnya sebuah artikel penelitian.

Menarik apa yang saya dapati dari penelusuran perihal penelitian seputar praktek poligami tersebut. Ternyata sudah ada penelitian perihal hal ini pada orang-orang yang mengalami poligami di negara-negara Afrika, Asia, terutama negara-negara Arab dan bahkan yang menarik lagi bahwa di kala globalisasi ini praktek poligami juga terjadi di Amerika dan Eropa.

Kenapa seseorang laki-laki melaksanakan poligami? Satu penelitian dari Nigeria melaporkan 5 alasan kenapa seseorang melaksanakan praktek poligami antara lain ingin mempunyai anak yang lebih banyak, meningkatkan prestise dimata sobat atau kelompoknya, meningkatkan status dalam masyarakatnya, menambah anggota keluarga untuk melaksanakan pekerjaan, misal dalam bidang pertanian dan terakhir untuk memuaskan dorongan seksualnya.

Bagaimana dengan di Indonesia? Berbagai alasan yang muncul jikalau kita tanya kepada sobat atau kolega yang melaksanakan poligami, mereka menjawab untuk menyalurkan impian seksualnya dari pada bekerjasama dengan perempuan tunasusila dan tidak halal, lebih baik menikah lagi dan halal yang penting sanggup berlaku “adil”. Saya membatasi diri tidak akan membahas duduk kasus “adil” ini lebih lanjut alasannya yakni sudah masuk ranah agama.

Gangguan jiwa

Hal yang sering kita dengar dalam perbincangan poligami seputar kita yakni pernyataan “wanita mana yang mau dimadu?” Dan pada hasilnya memang ada juga perempuan yang mau dimadu ketika suaminya dengan aneka macam alasan minta izin untuk menikah lagi.

Berbagai penelitian yang dilakukan antara lain yang saya baca melaporkan poligami dari Syria, Palestina, Turki, Jordan, Kuwait mendapat bahwa istri pertama akan mempunyai duduk kasus psikosial, keluarga dan duduk kasus ekonomi yang lebih besar dibandingan pada perempuan dalam perkawinan monogami.

Penelitian yang dilakukan Al-Krenawi pada perempuan Syria mendapat bahwa perempuan yang mengalami poligami mengalami penurunan kepuasan hidup dan kepuasan perkawinan. Para perempuan yang mengalami poligami akan mengalami duduk kasus gangguan jiwa yang berdampak juga buat kesehatannya.

Mereka lebih gampang jatuh dalam depresi, gangguan psikosomatik, gampang mengalami kecemasan dan juga sanggup mengalami paranoid. Tetapi secara umum fungsi keluarga perempuan yang mengalami poligami ternyata tidak ada perbedaan dengan perempuan monogami. Penelitian ini dilakukan di Syria dan di publikasi pada World Journal Psychiatry tahun 2013.

Penelitian lain yang dilakukan di Jordania juga mendapat hal yang sama bahwa perempuan yang mengalami poligami akan merasa rendah diri, menjadi tidak berharga, mengalami gangguan psikosomatik dan gangguan somatisasi. Jika ditanyakan apakah mereka yang mengalami poligami oke mengalami poligami mereka umumnya oke berbeda dengan perempuan yang monogami mereka tidak oke untuk dipoligami.

Penelitian di Turki yang juga membandingkan kehidupan perempuan yang dipoligami dan monogami mendapat bahwa perempuan yang dipoligami ternyata lebih gampang mengalami gangguan kejiwaan, lebih gampang mengalami stress dibandingan perempuan yang dipoligami. Berbagai penelurusan artikel ilmiah ini mendapat bahwa memang hasilnya para istri yang dimadu akan lebih gampang mengalami gangguan kesehatan dibandingkan dengan perempuan yang tidak dimadu.

Kadang kala memang perempuan menentukan untuk dicerai dari pada dimadu tetapi pertanyaannya apakah perempuan yang tidak bersuami lebih sehat dibandingan dengan perempuan yang perkawinannya tidak memuaskan misal alasannya yakni dimadu.

Satu survei yang dilakukan oleh Chung dan Kim dari Universitas Yonsei Korea Selatan dan gres saja dipublikasi beberapa hari kemudian di Jurnal PlosOne melihat korelasi antara perkawinan dan kepuasan perkawinan dengan kesehatan. Ternyata pasangan yang puas dalam perkawinannya akan lebih sehat dari pada seseorang yang belum menikah.

Tetapi seseorang yang menikah dan tidak puas dengan perkawinannya mempunyai permasalahan kesehatan yang sama dengan orang yang tidak menikah. Hal inilah yang menghasilkan kesimpulkan bahwa kepuasan perkawinan merupakan hal yang penting untuk kesehatan dibandingkan perkawinan itu sendiri. Survei besar ini melibatkan 8.538 orang dari China, Jepang, Taiwan dan Korea dan dipubliksi di jurnal PlosOne bulan Agustus 2014.

Kembali lagi hasilnya menjadi buah simalakama buat seseorang yang dimadu: tetap meneruskan perkawinan dan dimadu atau minta bercerai dari pada dimadu. Keputusan yang diambil sama-sama akan membawa imbas buat kesehatan mereka.

Akhirnya apa yang saya sampaikan ini merupakan hasil penelitian di luar negeri, budaya kita berbeda dengan budaya Asia timur maupun masyarakat Arab. Tentu perlu penelitian dengan responden orang Indonesia untuk menjawab apakah para istri yang dimadu di Indonesia juga mempunyai permasalahan kesehatan yang sama dengan para perempuan yang dimadu dari negara lain yang telah saya ungkapkan diatas.

No comments:

Post a Comment

Pages